Bagaimana Hukum Beri'tikaf bagi Perempuan

bagaimana hukum i'tikaf bagi perempuan

Mendapatkan lailatul qodar di malam sepuluh hari terakhir bagi para kaum wanita ataupun laki sangatlah di idamkan. Banyak cara yang dapat dilakukan salah satunya beri'tikaf serta menjalankan sunnah-sunnah Nabi.

Hukum ber'itikaf bagi laki-laki tetunya sangatlah di perbolehkan, sedangkan untuk perempuan bagaimana hukum nya jika ingin beri'tikaf di mesjid apakah di perbolehkan ? atau cukup hanya beribadah di rumah saja ?

Pengertian I'tikaf

Secara bahasa i'tikaf yaitu mendiami atau menetapi sesuatu, baik itu sesuatu yang baik ataupun sesuatu yang buruk, kata i'tikaf mendiami sesuatu yang buruk tercermin dalam firman Allah

ya’kifuuna ‘ala ashnaam lahum" Orang-orang kafir beri'tikaf di hadapan berhala yang mereka miliki.
Dan untuk i'tikaf mendiami sesuati yang baik Allah SWT juga berfirman :

wa laa tubaasyiruu hunna wa antum ‘aakifuuna fil masaajid" dan janganlah kalian mencampuri istri kalian sedangkan kalian beri'tikaf di masjid.
Secara harifah i'tikaf berarti lazima atau terikat dan habasa an-nafsya yaitu menahan diri sebagaimana yang sudah di jelaskan dalam Al-Qur'an.

Adapun secara syar'i i'tikaf memiliki arti berdiam diri di masjid dalam waktu tertentu serta ciri-ciri tertentu di sertai dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam sebuah hadist dari Aisyah r.a : "rasulullah melakukan i'tikaf di malam sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan dan beliau bersabda

carilah Lailatul Qodar pada malam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan" ( H.R Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
Untuk hukum i'tikaf adalah sunnah dengan berdasarkan sunnah fi'liyyah Nabi Muhammad SAW yang di turunkan oleh Aisyah r.a :

Sesungguhnya Nabi saw. telah melakukan i’tikaf di malam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah SWT mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau pun melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.” (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad)
Yang mana hadist ini membuktikan bahwa hukum ber'itikaf bagi perempuan adalah di bolehkan,
akan tetapi tempat untuk melakukannya haruslah terpisah dari kaum laki-laki : jika perempuan tersebut melakukan i'tikaf bersama suaminya. Akan tetapi jika tidak maka di harus meminta izin kepada sang suami terlebih dahulu karena hukum i'tikaf ini sunnah dan seorang suami pun boleh memberi izin ataupun tidak.

Pandangan serta pendapat dari jumhur ulama dari kalangan mazhab maliki, syafi'i, hambali dan lainnya tentang i'tikaf adalah

bahwa kaum perempuan seperti laki-laki tidak sah i'tikafnya kecuali di lakukan di masjid. Maka i'tikaf yang dilakukan di rumah tidak sah hukumnya.

akan tetapi madzhab hambali berbeda pendapat dalam masalah i'tikaf ini yang mana mereka berkata :

sah i'tikaf seorang perempuan yang dilaksanakan di masjid rumahnya
tetapi pendapat jumhur jelas lebih benar, yang mana pada dasarnya laki-laki dan perempuan sama dalam hukum kecuali dalam dalil yang menghkususkan.

Hukum I'tikaf bagi Perempuan

Dari kesimpulan yang telah kita ambil di atas jika seorang perempuan ingin ber'itikaf maka disyariatkan untuk melakukannya di masjid.

Akan tetapi harus sesuai dengan izin suami yang mana sesuai dengan jumhur ulama. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

Dari Abu Hurairah ra., Janganlah seorang wanita berpuasa sementara suaminya ada bersamanya, kecuali dengan seizinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
Tetntu apabila dalam urusan berpuasa saja seperti ini maka dalam i'tikaf jauh lebih di tekankan untuk mendapatkan izin dari suami.

Baca Juga


Karena hak-hak suaminya menjadi terabikan, dan kondisi diamnya seorang perempuan di masjid tidak terjamin keamanannya, seperti membahayakan dirinya ataupun menjadi tontonan yang tidak membolehkannya ber'itikaf.



Belum ada Komentar untuk "Bagaimana Hukum Beri'tikaf bagi Perempuan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel